Assalamu’alaikum.

Halo semua, hari ini saya ingin mengutarakan pendapat saya tentang fenomena perempuan masa kini. Tentang banyaknya artikel seperti “Beda Nafkah dan Uang Belanja” dan “Memasak bukan kewajiban istri” yang mendadak banyak teman – teman perempuan share seolah “kode” biar si suami/calon suami tau kewajiban mereka selain dari memberikan uang belanja rumah tangga dan apa yang bukan menjadi kewajiban istri.

Mendadak ramai

Entah sejak kapan, mendadak ramai artikel – artikel sejenis baik tentang “beda nafkah dan uang belanja” maupun artikel tentang “istriku tidak bisa memasak bu“.

Memang, kalau dilihat dari keseharian wanita masa kini, wanita terbiasa bekerja 8 jam sehari di sebuah perusahaan. Mencurahkan seluruh pikiran dan waktu yang mereka miliki sebagai totalitas dalam berkarir. Dan tidak sedikit dari mereka yang mendapatkan bayaran lebih besar daripada laki – laki yang bekerja dengan posisi sama.

Ketika menikah dan harus meninggalkan segala rutinitas yang dimiliki sebelumnya (jadi ibu rumah tangga), perempuan pasti mengalami hal yang tidak menyenangkan. Gaya hidup yang sebelumnya tinggi bisa jadi menurun. Tidak ada waktu dan kesempatan untuk merawat diri (yang mungkin sebelum menikah bisa ia lakukan begitu sering). Dituntut harus menyediakan segala sesuatu kebutuhan suami dan anaknya, yang kadang bahkan melupakan kebutuhan dirinya sendiri.

Tapi, dari semua penuturan diatas, ada satu hal yang saya tiba – tiba pikirkan. Kenapa yang membagikan artikel seperti disebutkan diatas, mayoritas adalah perempuan yang masih single atau perempuan yang menikah, tapi masih muda usia pernikahannya?.

Khawatir

Sejujurnya, penulis memiliki ke-khawatiran tersendiri tentang fenomena perempuan masa kini. Kekhawatiran adalah dari penulis artikel dan dari mindset orang – orang yang membagikan artikel tersebut (meskipun ada kemungkinan bakalan ada yang komentar “bukan urusan kamu!”).

Keabsahan Artikel

Salah satu kekhawatiran saya adalah pada keabsahan artikel. Pada beberapa artikel (tentang beda nafkah dan uang belanja), mencantumkan ayat – ayat Al-Qur’an tentang kelebihan seorang lelaki daripada seorang perempuan. Bahkan ada juga yang mengutip hadist Rosulullah S.A.W tentang nafkah istri.

Yang dikhawatirkan adalah artikel tersebut hanya berdasarkan asumsi dan pengalaman pribadi. Sedangkan yang membaca bisa saja sudah terlalu berbahagia dengan mengetahui bahwa “nafkah dan uang belanja itu berbeda” pun melihat kepada artikel “mengerjakan pekerjaan rumah bukan kewajiban istri”.

Perempuan mana yang tidak berbahagia kalau tau itu semua bukan kewajibannya?

Pendapat laki – laki

Yeah. Karena objek yang akan merasakan dampak artikel ini adalah laki – laki, saya mewawancarai beberapa laki – laki tentang nafkah dan uang belanja, plus kewajiban perempuan dalam rumah tangga.

Pokoknya istri aku mah kudu bisa masak. Kudu bisa beres – beres. Nggak boleh manja.

*sebut saja kumbang

Conclusion

Jadi sebenarnya sih, ini isinya curhatan tentang “kenapa sih sekarang – sekarang mendadak rame kalau ada artikel yang bagus buat diri sendiri, pasti langsung di share. Tanpa mikir apakah artikel itu benar atau cuma opini aja.”

Pada dasarnya mah, gimana orangnya sih menanggapinya. Kalau orang yang sensi baca artikel saya pasti komentarnya “yaudah sih, urusan orang. Orang yang nge-share kenapa kamu yang komen “. Terus gunanya di share biar apa -_-“.

Jadi gini, ngeshare sih nggak apa – apa, asal jangan lupa, kita tetap harus bersyukur atas apa yang kita miliki. Kalau kenyataannya suami nggak bisa membedakan antara nafkah sama uang belanja gimana? Kan nggak mungkin kita anggap beliau berdosa atau dzalim. Padahal kenyataannya, Allah bisa jadi sedang saying – sayangnya sama beliau karena kerja keras beliau untuk menghidupi kita.

Jadi, yah.

Oke!

Mari kita bersyukur sebanyak – banyaknya.

*padahal udah stuck mau nulis apa*

Sayonara minna!

Leave a Reply