Assalamuálaikum, selamat siang readers.

Siang ini mau cerita lagi tentang arisan dan kata yang tak pantas. Sebenarnya ini cerita pribadi yang Alhamdulillah diberi nikmat untuk bisa sharing ke temen – temen supaya bisa ambil hikmahnya dan berhati – hati jika akan mengambil sebuah keputusan yang melibatkan orang banyak.

Arisan

Jadi ceritanya, Alhamdulillah, sejak tahun lalu saya belajar manage uang dengan cara ikutan arisan sama beberapa orang. Yang tadinya semuanya semangat dan pada rajin untuk bayar dan saling mengingatkan untuk dibuka siapa yang mendapatkan arisan setiap bulannya. Yah, hal itu berjalan lancar selama beberapa bulan di awal. Sekitar 5-6 orang yang sudah mendapatkan arisan sesuai dengan nilai sebenarnya (total yang mengikuti dikali jumlah nominal arisan).

Semua rajin membayar arisan hingga pada suatu titik, kemunduran demi kemunduran kerapkali terjadi pada kawan – kawan yang ikut arisan. Entah dengan alasan pergi atau bahkan tidak dapat ditemui kembali. Tapi memang tidak semua yang pergi meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja. Masih ada yang beritikad baik untuk melunasi hutang arisan yang dimilikinya.

Masalah

Ditengah masalah kesulitan pembayaran arisan tersebut, diiringi dengan banyaknya hujatan dan berita – berita atau kata – kata tidak enak kepada salah satu anggota yang memang sejak awal agak sulit diminta uang arisan karena beliau tidak pernah menyimpan uang tunai. Ada yang mengatakan A, B, C dan seterusnya. Bahkan pada akhirnya, ada yang sampai – sampai mengaku muak melihat wajah orang tersebut. Katakanlah orang itu si kumbang (orang yang menghujat) dan si petir (orang yang dihujat).

Entah karena beberapa alasan, kumbang sangat membenci petir. Entah karena memang petir memiliki kebiasaan dan perangai buruk entah ada dendam pribadi antara mereka. Entahlah, mengukur hati orang lain itu rumit. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Pada akhirnya kumbang memutuskan untuk pergi. Yang awalnya dia masih mudah dihubungi, mendadak agak sulit dihubungi. Yang disayangkan dari kepergiannya adalah, kumbang sudah mendapatkan seluruh keikutsertaannya pada arisan, tapi tidak langsung melunasi hutangnya pada arisan tersebut (dapet arisan duluan, pas pergi nggak bayar sisanya). Sebenarnya alasan menghubungi pun tidak melulu karena uang arisan, sering dihubungi untuk urusan silaturahmi pun, rasanya sulit.

Pelajaran Bagi Diri

Sebenarnya beberapa saat lalu, kumbang berhasil dihubungi. Dan ketika dimintakan untuk uang arisan beliau berkata “Belum ada pemasukan”. Suasana pun menjadi kurang enak. Satu sisi ada perasaan sedih, beliau mungkin ada pada kondisi kesulitan, namun kami pun kesulitan untuk membantu.

Yang selanjutnya harus jadi pelajaran adalah kita harus berhati – hati terhadap segala jenis hutang. Bagaimanapun itu, orang yang meninggal dengan hutang, akan ditangguhkan kehidupannya di akhirat hingga sanak saudara/ keluarga melunasi hutangnya.

Ketika mengikuti sebuah arisan, tentu kita masing – masing sudah harus paham, bahwa berinvestasi itu pasti ada untung ruginya. Dan jangan lupa bahwa apa yang kita dapatkan itu belum tentu hak kita 100%. Jika kasusnya seperti kumbang yang saya ceritakan diatas, kita harus super hati – hati ketika mendapatkan arisan. Uang itu memang hak kita, tapi jangan lupa bahwa arisan sebenarnya hanya menjadi salah satu teknik untuk menabung atau menyimpan uang.

Misalkan, kita mendapatkan di awal dengan nilai 1.200.000, kemudian makin lama, ada yang tidak membayar hingga nilainya turun menjadi 1.000.000, dan diakhir ketika yang tidak membayar semakin banyak, nilai arisan semakin berkurang hingga +- 750.000. Padahal bisa jadi yang mendapatkan arisan di akhir adalah orang yang paling rajin membayar arisan.

Jangan Merasa Terlalu Yakin

Jangan merasa terlalu yakin akan mampu melakukan segala sesuatu lebih baik dari orang lain. Yah, pada kenyataannya, kita mudah sekali menjatuhkan orang atau merendahkan orang lain atas apa yang mereka lakukan dan tidak kita lakukan. Padahal, bisa jadi kita tidak akan melakukannya atau bahkan, kita hanya belum melakukannya.

Seperti apa yang terjadi pada kumbang dan petir. Pada awalnya, mungkin petir juga berbuat dzalim pada orang lain hingga kumbang mungkin merasa lebih baik dari petir. Tapi pada akhirnya, keduanya sama – sama berbuat dzalim. Hanya masalah waktu saja yang membedakan antara keduanya.

Sejujurnya, saya jadi mengingat sebuah pernyataan bahwa setiap apapun yang kita ucapkan adalah doá. Kata apapun yang keluar dari mulut kita, bisa jadi sebuah doá yang diaminkan oleh malaikat. Jika kenyataannya kita mengatakan sesuatu yang buruk untuk orang lain, bukankah bisa saja sewaktu – waktu kalimat itu akan menyerang balik kepada diri kita?

So, jadilah manusia yang baik lisan dan perbuatannya.

Wassalamuálaikum warahmatullah wabarakatuh

Sayonara minna!

Leave a Reply