Assalamuálaikum.

Selamat malam readers!

Alhamdulillah, bandung hujan sore ini. Yeiy, ada bau – bau keromantisan dan bau – bau cinta yang semerbak tercium seketika (maksudnya : karena hujan itu adalah rezeki, yaa hujan itu adalah sabda cinta dari sang Khaliq) ya gitulah maksudnya kurang lebih haha. Btw, mohon dimaafkan untuk penggunaan Bahasa inggris yang kurang tepat untuk judulnya. Maksud hati mau menggunakan Bahasa Indonesia, tapi apa daya kalau ternyata judul dalam Bahasa Indonesia jadi sangat panjang :'(

Jadi teman – teman, rencananya kali ini saya mau cerita sedikit tentang kejadian yang baru – baru ini terjadi di kampus saya dulu. Dan sebenarnya, hal standar ini juga terjadi dimana – mana. Yaps! merusak fasilitas umum karena merasa membayar untuk melakukan apapun. Atau setidaknya mereka tidak merasa perlu menjaga fasilitas karena mereka membayar.

Heran

Sebenarnya saya heran sama orang – orang yang seperti itu. Suka buang sampah sembarangan, padahal tempat sampah saja tidak lebih dari 5 meter jaraknya dari dia. Tempat sampahnya penuh? Pas saya cek, nggak juga. Kosong sekali malah. Lantas kenapa masih suka buang sampah sembarangan?

Mengotori tempat umum, yang saya herankan juga, apa sih yang ada di pikiran mereka? Memangnya mereka pikir itu keren ya? Padahal orang lain melihat jijik dengan tempat kotor. Apa mereka nggak mikir? Hmm

Arogansi

Masih segar diingatan saya ketika ada seorang anak muda yang berkata bahwa “nyampah di gunung itu wajar, lah wong kita bayar!”. Yah, dan banyak juga kasus – kasus serupa maupun yang lebih parahnya merusak fasilitas publik. Seperti kasus rusaknya kursi di daerah gedung Asia Afrika Bandung.

Baru – baru ini, ada dua buah kasus yang bikin saya miris sama kelakuan manusia – manusia tidak bertanggung jawab itu. Kasus pertama adalah tentang gedung baru yang ruangannya penuh jejak sepatu. Ya sebenarnya jejak sepatu bukan hal yang jelek kalau tempatnya di lantai, karena ada banyak kemungkinan kenapa sepatu bisa memiliki jejak. Sayangnya, jejak sepatu kali ini ditemukan di tembok ruangan kelas. Kasus kedua adalah peristiwa corat – coret lift gedung yang lain. Kebetulan, pelakunya ketahuan karena pas lift terbuka, pelaku baru saja menyelesaikan aksi kejahatannya.

Yah, kasus – kasus semacam itu kalau saya simpulkan secara luas, para pelaku adalah orang – orang yang arogan.

Menegur? Kok yang salah ngotot?

“Tau gitu, kenapa nggak ada yang negur?”

Kenyataannya adalah yang negur keadaannya selalu lebih terancam. Sudah bukan sekali atau dua kali banyak kejadian orang – orang menegur, tapi justru mereka yang dijadikan bulan – bulanan. Entah ada yang mengalami tindak kekerasan, maupun bully dari tersangka. Dan nyatanya, tidak sedikit yang ditegur yang lebih galak. Entah mungkin karena malu, mereka tidak bisa mengolah emosi mereka dengan baik. Apalagi kadang ditegur didepan orang banyak.

Kasian sih, tapi kalau tidak ada yang menegur, mau siapa yang menegur?

Saya sangat menghargai orang – orang yang mau mengakui kesalahan ketika ditegur. Ya gitulah, karena menurut saya mengakui kesalahan itu tidak mampu dilakukan oleh orang yang “lemah”.

You pay to enjoy the facility! Not to wreck it!

Pada dasarnya, kita membayar untuk sesuatu bukan berarti kita bisa melakukan apapun dengan sejumlah uang yang kita bayar.

  • Apa karena kita membayar makanan, lantas kita bisa makan apapun yang kita inginkan? Tidak!
  • Apa karena kita membayar untuk makan direstoran, lantas kita berhak membawa pulang piring milik restoran atau merusaknya? Tidak!
  • Apa karena kita membayar kuliah, lantas kita berhak untuk bertindak sesuka hati merusak fasilitas yang ada? Tidak!
  • Apa karena kita membayar untuk menikmati objek wisata, lantas kita berhak berlaku sesuka hati disana? Tidak!

Sama sekali tidak ada keterangan bahwa jika kita membayar, lantas kita berhak melakukan apapun. Semahal apapun kita membayar.

Bahkan membeli tiket pesawat yang tergolong mahal pun, kita hanya bisa naik pesawat sesuai dengan yang ada di tiket yang kita beli.

Yang baik akan tetap menang.

Di akhir cerita ini, saya tetap yakin. Yang baik akan tetap menang. Meskipun dia sendirian, meskipun dia tidak ada teman.

So, untuk readers yang budiman, mari kita terus berbuat baik pada siapapun dengan mengingatkan pada kebaikan. Terlepas bagaimanapun keadaan nantinya, toh satu kebaikan kecil mampu mengalahkan seribu kejahatan. Pada dasarnya, orang jahil pun pasti punya sisi baik. Kita hanya perlu tahu bagaimana cara membangunkan si baik dalam diri si jahil.

Okay! Selamat malam minna. Hatur nuhun

Leave a Reply