Assalamuálaikum warahmatullah wabarakatuh.

Yeah, Alhamdulillah. Setelah hampir sekitar 30 hari berkutat untuk menyelesaikan skripsi, akhirnya menemukan titik jenuh (sementara). Semoga setelah sedikit nostalgila dan curcol di blog ini, titik jenuhnya jadi titik didih lagi (intinya mah bias ngerjain skripsi lagi) aamiin.

Hari ini, mau menceritakan tentang kehidupan selama kurang lebih satu tahun enam bulan di m*g**ot**** (PT. ***** Ad******* G******) atau lebih tepatnya kantornya bapak xxx (ini konspirasi, nama pt sama nama yang punya sama singkatannya) btw sebut saja kantor itu “bunga”. Intinya sih, mau menceritakan tentang pengalaman menjadi karyawan.

To the point, saya sangat bahagia. Karena ternyata, Allah menempatkan saya di tempat yang tepat.

Yah, setelah sebelumnya idealisme saya diuji dengan berada di lingkungan suatu “harokah” tertentu, di magprotech malah ditempatkan di sebuah perkumpulan yang isinya benar – benar jauh beda 100% dari tempat kerja sebelumnya. Bedanya, kalau di tempat kerja sebelumnya (sebut saja “lebah”), ujian terbesar adalah tetap netral dan nggak taqlid. Kalau di “lebah”, justru idealisme saya sebelumnya harus diperkuat.

Secara umum, saya menyukai kerja di keduanya.

Antara Kantor Pertama dan Kantor Kedua

vTYang pertama, banyak memberikan saya inspirasi bagaimana mengatur perusahaan yang baik. Bagaimana internalisasi visi dan misi perusahaan kepada karyawannya. (yah meskipun menurut saya dengan cara agak memaksa, tapi ya itu power mereka. Nggak suka? ya cabut aja!). Seneng banget, temen – temennya sholeh dan sholehah. Para pejuang Allah yang bener – bener pejuang Allah.

Udah gitu, untuk tetap menjaga ruhiyah para karyawannya, perusahaan ini bagus banget. Jadi, dalam 5 hari kerja, jam kerja sekitar jam 8.00 -17.00, jam 8.00 – 9.00 ada jadwal sendiri setiap harinya.

Hari senin dan rabu, ada IP (inspirasi pagi) untuk internal perusahaan. Hari selasa dan jumát ada IP untuk satu holding. Dan setiap hari kamisnya, ada program tahfidz dan tahsin untuk seluruh karyawan holding.

Jujur aja, itu adalah hal yang bikin bener – bener senang dan bener – bener ngerasa dijaga banget sama Allah. Kalau dihitung – hitung, jam kerja total hanya sekitar 7 jam saja.

Untuk masalah disiplin, di “lebah” memberlakukan aturan yang tegas untuk seluruh lapisan pekerja disana. Aturan keterlambatan, pemotongan gaji yang benar – benar adil. Bahkan direktur pun diatur untuk perihal kedisiplinan.

Dari seluruh hal – hal positif tersebut, ada beberapa hal yang memang saya kurang senang dan cukup mengganggu “diri saya sendiri”. Mungkin karena trauma pengelompokan dan justifikasi dari orang – orang terhadap golongan tertentu. Padahal, sama – sama muslim, sama – sama belajar Al-Qurán dan Hadist Shahih Rosul. Tapi.. tapi.. yasudahlah, nggak usah diperpanjang. hehehe (kalau mau ceritanya PM aja ya).
magproDitempat kedua (“bunga”), justru menjadi ujian bagi saya. Apakah saya tetap saya yang biasanya? atau malah berubah jadi bukan saya?.

Kenapa ujian?

Bisa dibayangkan, di tempat kerja yang sebelumnya saya dibiasakan teratur, diperusahaan kedua ini seolah – olah tidak ada aturan jelas malah (bahkan sampai saat ini, aturan perusahaan hanya sebatas obrolan di mulut pemilik usaha sekaligus pelaku usaha sekaligus direktur) hehe.

Tapi jangan salah, justru disinilah pelajaran berharga itu saya dapatkan.

Yah pada intinya, disini itu saya belajar “Bahwa tidak ada orang yang 100% jahat dan tidak ada orang yang 100% baik”. Disini, berkenalan dengan orang – orang yang “terlihat” tidak memiliki interaksi baik dengan penciptanya. Padahal, jauh dari apa yang terlihat, saya justru mampu menangkap apa yang ingin Allah ajarkan pada saya.

Pertama, dari orang – orang yang pernah berurusan dengan hal – hal yang diharamkan oleh Allah, ada sisi dimana mereka ingin bertaubat dan memberikan yang “halal” bagi keluarganya.

Dari perempuan – perempuan yang menolak untuk berjilbab karena “lebih baik -hijab hati- terlebih dahulu”, ada sisi dimana mereka sangat ingin berhijab, tapi takut mencoreng hijab dan agamanya sendiri karena perilakunya yang belum baik.

Ada kalanya, kita tidak bisa memandang dunia “cukup” dari kacamata dimana kita berada dan dimana kita tumbuh. Ada kalanya kita harus belajar dari kacamata lain dan mencari jalan keluar lebih baik atas fenomena sosial yang ada di sekitar kita.

Kantor Kedua

Mayoritas cerita seru dan banyak ibroh, memang saya dapatkan di tempat kedua. Hal terbaik adalah ketika saya mendapatkan pelajaran bahwa “karyawan tidak hanya perlu uang, mereka perlu hidup”. Kadang, begitu banyak perusahaan yang menganggap karyawan kerja karena uang. Sayangnya, pendapat itu tidak 100% benar (kecuali untuk tukang demo yang agak kurang wajar tuntutannya).

Di kantor kedua, kenal sama orang – orang super.

Salah satunya adalah mbak siti nurjanah (eh dede siti maksudnya).

Siti Nurjanah

Beliau adalah salah satu perempuan yang menginspirasi saya. Gimana gigih dan kuatnya beliau, gimana perjuangan dede siti untuk jadi lebih shalihah (semoga makin shalihah ya dede siti). Perjuangannya untuk lebih feminim dan lebih syar’i lagi hijabnya. Seneng gitu, yang tadinya saya pikir saya bakalan berasa dakwah sendirian, eh ada dede siti yang kadang mengiyakan pendapat saya tapi dengan tetap menjadi dirinya sendiri.

Pernah suatu hari, waktu ada acara outing, ternyata ada yang membawa bir untuk di acara itu. Malam harinya, bir itu dibuka dan diminum bersama – sama (katanya). Pas ketika bir dikeluarkan, saya langsung marah disana dan langsung bilang ” Sini bir-nya saya beli, saya ganti uangnya. Mau saya buang soalnya”. Entah ada yang dengar atau enggak pas saya bilang gitu, saya udah yang hampir nangis, yasudah langsung masuk kamar dan bener – bener mengunci diri dari malam sampai pagi dan mogok ngomong sampai pagi *kecuali sama yang perempuan aja*.

Pada akhirnya cerita sama dede siti, ya gitulah. Saya bilang ke dia “Sit, gimana mau dapet berkah dari Allah. Baru aja sore tadi kita berdo’a supaya kedepannya lebih baik, sekarang langsung mereka malah minum – minuman haram gitu”. Dan siti cuma bilang, ” ya gimana atuh teh, ya kita nggak bisa ngelarang juga”. Dibalas sama aku “nah makanya, aku udah males rasanya, makanya males keluar kamar. Orang – orangnya gitu semua.”. Kalau kata dede siti mah “atuh jangan gitu teh, ga enak sama mereka”.

Dan jujur, saya benar – benar menyesalkan sikap direktur yang sama sekali nggak melarang hal itu terjadi.

Dan berbagai cerita lainnya yang hanya kami berdua yang tau (hehehe). Tapi ya gitu, kalau saya nggak suka sesuatu cenderung ada reaksi penolakan yang terlihat jelas, beda sama dede siti yang masih bisa membaur. Tapi nggak gitu – gitu amat ketang, biasanya kalau orangnya mau ditegur dan kooperatif mah biasa aja ujung – ujungnya.

Vita Astriana

Dikantor juga di awal – awal banget, kenal sama teh vita. Alhamdulillah, akhirnya teh vita nikah juga tanggal 26 september lalu (setelah ditunggu – tunggu). Teh vita itu icon ibu – ibu sosialita masa kini, gaul pisan lah. Apalagi semenjak ada mely. Beuh, sering banget bikin coveran dubsmash dan selfie hahaha. Yang saya salutin dari beliau adalah beliau bisa jauh lebih sabar sama kelakuan bos dibandingkan saya (hahaha). Katanya sih, habis nikah mau berhijab si teteh ini ( kita do’akan yaa semoga jadi tambah sholehah, dan jadi ibu yang sholehah buat anak – anaknya kelak). Meskipun kadang teteh ini kalau bercanda suka bikin “horor” (horor dalam tanda kutip maksudnya bercandaan untuk 25++) haha, tapi teteh ini kooperatif kalau diajak ngobrolin hajat hidup orang banyak (semacam arisan dan lainnya). Teteh ini juga pergaulannya luas pisan, supel pun. Gampang banget deket sama orang baru. Senengnya itu, teh vita udah kayak mamahnya karyawan kantor “bunga”. hahaha. Sering curhat – curhatan bareng kalau pas selesai makan siang. Kadang kalau shalat bareng, curhat – curhatannya di mushola, sambil bobo – boboan. Entah dengerin cerita tentang skandal jepit, maupun tentang cerita – cerita yang “lucu” gitu.

Setelah teh vita, yang jadi temen kantor dulu ada kang riky, delly, pak rahmat, pak patar sama bu hanne, kiki sama dovi. Sayangnya, kenalan dan kerja sama mereka cuma sebentar banget. Selain mereka sering bekerja diluar (karena marketing) ada juga yang karena sakit. Jadinya nggak bisa ngasih review untuk mereka.

Austra A Ramadhan (AA)

Yang baru – baru setelah teh vita ada bos rama (oiya, nama julukan AA baru didapet akhir – akhir ini aja). Yah, kalau kata teh vita sama melly sih mereka bilangnya “bos ganteng”. Entah karena apa dibilang gitu, nggak tau alasannya (padahal mah karena ………………………………. *isi aja sendiri* haha). Beberapa hal terakhir yang saya ingat sebelum si bos pindah ke jakarta adalah beliau ini galau diantara 2 orang perempuan (hahaha berasa playboy pisan lah *maapin bos*). Keinget cerita si bos waktu selesai meeting di PT pos bertigaan sama abah. Bodor sih orangnya. Tapi setelah ketemu di acara resepsi teh vita kemarin, kayaknya orangnya udah lebih dewasa dari sebelumnya, sekarang jenggotan bro, katanya mau ngikutin teuku wisnu (aamiin) semoga tambah sholeh ya bos, bisa jadi imam yang baik buat teteh lady, dan anak – anaknya nanti (aamiin). Si rama ini juga bos yang baik. Ya, seenggaknya, curhatan kami anak buahnya didengerin pisan. Dan kita sama – sama cari solusi terbaik buat kedepannya. Banyak ngasih petuah buah kita – kita anak bawang yang insyaAllah masih baik – baik dan belum terpapar virus – virus kenakalan remaja hahaha.

Jarot Herjendro

Kalau si jarot ya? ah males cerita tentang ni orang hahaha. orangnya gimana ya? bikin kesel terus sih. Nggak pernah sehari nggak ngebentak dia (kecuali dikantor suryalaya 9). Dan yang kasian dari orang ini adalah, beliau pernah kehilangan sepatu seharga setengah juta dimasjid. Padahal udah diwanti – wanti sebelumnya untuk beli sendal jepit kalau mau ke masjid. Kalau inget, rasanya pengen ketawa sih. Tapi kasian juga lah. Sekarang, kayaknya beliau sudah hidup lebih baik dari sebelumnya. Jarot ini mengajarkan untuk berjiwa besar. Segimanapun dibentak sama si bos dulu, beliau nggak sakit hatian. Diam aja. Ya gitulah, nggak ada kecenderungan untuk melawan. Sabar ya.

Iip Saepurrahman

Yang saya inget dari iip adalah beliau pernah ditembak sama siti pakai amunisi paint ball di bagian perut. Katanya sih sampai lebam – lebam gitu. hahaha. Beliau juga pernah jadi asisten saya waktu ngurus mypay (disuruh – suruh buat ngetes aplikasi) yang seharusnya bukan kerjaan dia sih. Tapi ya apa daya, kantor nggak sanggup ngebayar tester aplikasi sendiri haha. Maapin ya ip, kalau sering nyusahin nyuruh – nyuruh untuk ngetes aplikasi mypay. Meskipun aslinya santai juga hahaha

Nova Andriyanto Pradana

Orang ini adalah pengganti jarot ngoahaha. Entah pengganti sebagai support di kantor “bunga” maupun pengganti sebagai tumbal atas kebetean saya di kantor. 10929088_10203286812642262_8296783441337633660_n

Si nova ini adalah orang paling bodor di kantor kalau kata orang – orang mah. Btw, dia pernah jadi korban waktu main paint ball di pangalengan. Yeah, karena sebelumnya saya agak malas sama para laki – laki yang katanya mah malam harinya ikutan nge-bir semua, jadilah karena di arena face to face sama dia, akhirnya saya berondong aja pakai tembakan peluru warna. Sampai peluru habis dan dia pun nggak bisa kemana – kemana karena udah ke block jalannya ngoahaha.
Tapi ujung – ujungnya satu tim pas arung jeram hahaha. Dan alhamdulillah timnya masih muda semua yeiy!

Pada akhirnya, pas dikantor agak nyesel juga, karena ternyata dia nggak ikut – ikutan minum bir sama yang lain. Doh, maapin, tau gitu sasarannya ke yang pada minum – minum aja, terus di headshot aja semua ya. Meskipun itu satu tim sama eyke hahaha. Tuh kan, nulis tentang si nopa jadi inget kalau pernah mutusin sendal dia dan belum ngeganti -_- *brb ngewhatsapp*.

Yah alhamdulillah deh, akhirnya si nopa mau wisuda bulan desember ini katanya dan udah sidang sejak kemarin – kemarin. Fiuh, jadi saya harus semangat untuk segera sidang (camponfarm, please be kind. Allahumma yassir wa laa tuássir).

Btw, ini postingan kenapa malah jadi postingan “ngenalin” plus deskripsi teman – teman di kantor ya? Ah biarin lah, sekali – sekali nggak serius postingannya.

Sri Melyani & Luthfan Hafiz

Khususon buat dua orang ini, ditulisnya barengan, siapa tau jadi doá biar jodoh dunia akhirat (aamiin). Tapi ceritanya tetep per orang kok hahaha

Kalau mely, pertama liat itu sekitar bulan maret kayaknya. Pertama dilihat sih orangnya classy, agak jutek. Tapi pas udah semingguan kenal, OMG! sebelas duabelas sama teh vita. Mungkin lebih tepatnya teh vita junior hahaha. Orangnya terbuka pisan. Sampai – sampai kita sekantor tau curhatan dia semua. Sesi curhat bersama melly itu malah bisa jadi satu meja bundar sendiri ngoahaha. Selain kelakuan yang agak – agak mirip teh vita, ternyata melly itu dulunya nasyid (dia yang bilang gitu, dulunya sholehah soalnya ikut nasyid). Baca quránnya keren, salut pisan. Saya ngerasa “duh, ilmu saya teh belum seberapa, tapi kenapa buat belajar teh males pisan?”. Pernah kita bikin program tahfidz yang hanya bertahan sehari hahaha. Tapi seru sih, kesini – kesini jadi sering cerita tentang akuntansi dan lain – lain tentang keuangan perusahaan yang ideal hahaha.

Mely sama teh vita ini sebutannya upin ipin. Entah siapa yang memulai.

Kalau luthfan a.k.a abah, beliau itu temen koding php yang sebelumnya cuma saya sama bos rama aja. Beliau itu temen seumur hidupnya bos rama. Nggak tau dari SD atau dari SMA sampe kerja. Yah intinya sehidup semati, sering tidur bareng, sering bepergian bareng, sering berniaga bareng (jangan mikir macam – macam, siapa tau kan persahabatan mereka kayak kisah Rosulullah dan sahabat – sahabat yang dijamin masuk syurga #aamiin). Abah ini lebih cenderung pendiam dibanding saya dan bos rama yang kalau koding itu cerewet (apalagi kalau lagi semacam hackathon gitu). Abah itu cenderung nurutan orangnya, setengah polos sih sekilasnya hahaha.

Kalau belajar dari mereka berdua mah tetep satu hal “bersama itu terbaik, tetap bersama dalam kesendirian itu baik, namanya juga ukhuwah, kita harus pinter – pinter ngolahnya”.

Ajid Muhammad

(serius, lupa nama lengkapnya orang ini, maapin kalau salah namanya) *btw namanya diganti setelah dikasih tau dede siti*

Mang ajid ini salah satu temen yang nyentrik, kalau nggak sarapan, beliau bakal makan siang. Tapi kalau sarapan, beliau gak akan makan siang. Paling banter ngerokok sama minum kopi item (udah mirip dukun pisan lah). Nyentrik pisan, entah dari motor dan penampilan. Termasuk ke nama di jejaring sosial. Entah namanya tigabelas, atau bajink luncat atau apapun. Yang jelas, orang ini nggak pernah ngasih tunjuk nama aslinya jadi yaa maaf aja kalau namanya diatas salah :'( . Tapi ya gitu, setiap orang pasti punya sisi kehidupan yang bisa jadi pelajaran buat kita. Seperti yang dikatakan diatas tadi, kalau bukan kebaikannya yang patut kita tiru, keburukannya yang patut kita jauhi. Kalau mang ajid ini, beliau sederhana orangnya. Nggak neko – neko dan nggak banyak gaya hahaha. Kalau ngeliat mang ajid itu jadi keingetan “berbeda itu baik, asal dalam kebaikan hakiki”

Gina Agustina

Teh gina juga termasuk orang baru di kantor, pertama kenal saya mikir teteh ini jutek dan bakalan susah buat diajak temenan. Nyatanya, ya gitu, alhamdulillah sih sampai sekarang juga masih baik – baik aja kontak sama beliau. Nama teteh ini sama sama nama sahabat baik saya, cuma bedanya nama sahabat baik saya itu annisa ghina, kalau teteh ini gina agustina. Orangnya misterius, ada sisi yang saya nggak tau dan mungkin memang saya nggak perlu tau.

Tapi ya gitu, kenyataannya, memang nggak semua hal kita perlu tau kan. Saya mah nggak terlalu peduli orang mau bohong sama saya atau nggak, asalkan dia nggak membohongi dirinya sendiri. Kasian, sakit sendiri yang ada. Kalau saya dibohongin, paling simpel maafin dan tetap biasa aja, ya gitu weh. Saya tetap yakin, sepintar apapun menyimpan kebohongan, tanpa saya harus cari tau, akhirnya orangnya jujur sendiri karena ngerasa nggak enak hati, tapi ya biasanya mah kalau ada yang ngebohong, saya nggak enak hati dan yaa gitulah, nggak enak tidur. Di mimpi teh orang itu seolah – olah ngejelasin kalau dia bohong, jadi yaudah, tinggal nunggu orangnya jujur sendiri.

Doh, ngelantur kemana – kemana haha *maapin teh*, teh gina ini salah satu temen curhat selain dede siti. Ya, bedanya kalau sama dede siti sering satu paham, tapi sama teh gina sering beda paham. Ya gapapalah, kita hidup kalau sama terus kan flat aja. Kadang, mikir simplenya adalah “kalau bukan dia yang belum paham, berarti saya yang pemahamannya masih kurang”. Satu hal yang saya salutin, teteh ini udah membuka hati untuk belajar berhijab, mulai baca buku – buku islami dan berhijab yeiy! alhamdulillah. Meskipun sedih, pas perpisahan, teteh ini belum berhijab. Semoga next time kalau ketemu udah naik satu tingkat kesholehah-annya ya teh #aamiin. Kalau sekilas, belajar dari teteh ini tentang “you know my name, not my story”.

Rizky Rusmin

Kalau cerita tentang iki, sedikit sih. Selain jarang ngobrol, beliau juga pendiam. Ngobrol juga cuma pas ke PT Pos ber-4an sama abah + bos rama. Orangnya super pendiam (mungkin karena nggak terlalu kenal kali ya), tapi orangnya baik kok. Beliau lagi nerusin kuliah di seamolec ITB, dulunya alumni polban. Bingung mau cerita apa tentang orang ini hahaa, tapi yang pasti dari dia saya belajar bahwa “ucapkan yang perlu, tinggalkan yang tidak bermanfaat”.

Mau cerita tentang bos – bosnya, kepanjangan pisan. Jadi ceritanya tentang teman – teman sebaya yang juga menempuh kehidupan di kantor “bunga”. Kalau dibilang bahagia, bener – bener bahagia. Allah ngasih kebahagiaan itu nggak pernah tanggung – tanggung. Allah ngasih ilmu itu nggak pernah tanggung – tanggung. Cuma kadang, kita belum cukup paham untuk tau apa yang Allah kasih. Kadang kita belum cukup ilmu untuk tau gimana bentuk bahagia yang Allah kasih.

Pada akhirnya, saya tetap ingin mendoákan kita semua, semoga kita selalu dituntun Allah di jalan kebaikan, kalaupun kita Allah ditempatkan di tempat yang kurang baik, semoga Allah kukuhkah hati dan tekad untuk menjadi jalan kebaikan bagi lingkungan kita berada. Semoga Allah ridhai kita untuk sukses dunia akhirat, di dunia mampu memberikan manfaat bagi ummat, di akhirat mampu memberikan syafaat bagi keluarga dan sahabat.

Wassalamuálaikum warahmatullah wabarakatuh.

Leave a Reply