Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamuálaikum warahmatullah wabarakatuh.

Pagi ini, entah hari keberapa saya menemukan video dari mbak Ana Abdul Hamid, tentang curahan hati beliau dalam poligami (https://www.youtube.com/watch?v=HNLqJy7f04E). Banyak komentar dari perempuan – perempuan yang setuju dengan mbak Ana Abdul Hamid yang menyatakan empati dan turut merasakan sakit hati yang dirasakan oleh mbak Ana Abdul Hamid.

Saya pun tergugah dan seolah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh mbak ana ini. Sekaligus saya juga merasa, kenapa hal seperti ini di share di social media? Bukankah akan lebih baik kalau disimpan sendiri saja? Yah, mungkin pemikiran kedua saya itu adalah pemikiran orang yang belum menikah.

Untuk yang telah menikah, maupun belum menikah, poligami menjadi obrolan menarik di kalangan wanita yang pasang badan menolak poligami, maupun menerima poligami. Yah, pembahasan ini pun menjadi pembahasan hangat bagi laki – laki baik yang sudah maupun belum menikah.

Studi Kasus

keluarga-aa-gym-2xoca7xtc65wmhkn1fwgsgSetelah melihat video tersebut, saya memberi tahu rekan saya yang laki – laki, tentang video tersebut. Kemudian saya dan rekan saya yang perempuan, diberikan studi kasus seperti berikut :

Kita semua tau, kalau jumlah perbandingan antara laki – laki dan perempuan itu lebih banyak yang perempuan. Sekarang seperti ini, misalkan semua laki – laki, sudah dipasangkan dengan seorang wanita, hingga tidak ada laki – laki tersisa. Secara otomatis, pasti akan banyak wanita yang tidak menikah. Pada dasarnya, wanita juga membutuhkan kehadiran seorang suami dalam kehidupannya. Bagaimana cara terbaik untuk menyelamatkan wanita – wanita yang belum menikah tersebut dari hal – hal yang kurang baik (misalnya : perselingkuhan, terjebak di dunia PSK, bahkan menjadi seorang penyuka sesama jenis (naudzubillahimindzalik).)? Coba jawab tanpa membawa perasaan terlebih dahulu, karena setiap perempuan pasti tidak ada yang mau di poligami. Kalau nggak sanggup jawab, coba bayangkan kalau kalian yang ada di posisi itu. Atau anak – anak kalian yang berada di posisi itu.

Setelah pertanyaan tersebut dilontarkan, saya pun menjawab cara terbaik pertama adalah membina mereka agar lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, bahwa tanpa menikah, mungkin mereka bisa lebih banyak waktu beribadah kepada Allah SWT. Tapi ternyata, setelah saya pikir lagi, jawaban tersebut sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Ya, satu – satunya cara terbaik dan paling logis adalah laki – laki menikahi lebih dari satu wanita. Karena kenapa, sejujurnya menurut saya, apa yang terjadi pada mereka merupakan salah satu tanggung jawab saya sebagai muslimah. Ya, karena cara tersebut adalah cara yang paling menyelamatkan harga diri dan agama mereka.

Coba kalau kita biarkan, sedangkan sudah dapat dipastikan tidak ada laki – laki yang tersisa, maupun akan terlahir (hanya perumpamaan), secara otomatis, wanita – wanita yang tersisa hanya akan menghabiskan sisa hidupnya sendirian tanpa ada pendamping hidup. Bisa dipastikan bahwa akan ada kemungkinan penyimpangan – penyimpangan yang terjadi di kemudian hari. Kita bisa saja menghimpun mereka agar lebih mendekatkan diri pada Allah, tapi bukankah setan saja mampu menggoda kaum nabi luth yang sebelumnya patuh pada TuhanNya, menjadi liar melebihi binatang?

Jawaban Terakhir

Setelah jawaban tersebut, saya tetap memiliki jawaban pamungkas yang memang kurang masuk akal, tapi meredakan ketegangan setelah saya mengeluarkan jawaban saya, yakni : “YAUDAH, BUAT AJA ANAK LAKI – LAKI SEBANYAK – BANYAKNYA”. Toh katanya, ingin memiliki anak laki – laki atau perempuan, bisa diatur dari pola makan dan lain – lain. Meskipun pada akhirnya kita tidak tau apakah anak perempuan atau anak laki – laki yang akan Allah titipkan pada kita untuk kita didik menjadi hambaNya yang kuat.

Pada dasarnya tetap, kalau saat ini saya ditanya : “Jadi, kamu mengizinkan suami kamu berpoligami?”, saya mungkin akan tetap dengan mantap mengatakan “Tidak!”, jika ditanya alasannya kenapa?, saya akan jawab dengan mantap : “lihatlah, begitu banyak laki – laki yang belum menikah, bantu saja mereka untuk menikah. Pahalanya juga banyak kok.”. Yah, pada dasarnya, saya tetap perempuan yang cemburunya tinggi. Yah, gimana ya, itu adalah hal yang sulit untuk dideskripsikan. Tapi dari kecemburuan itu, tetap saja, bahwa aturan Allah dibuat bukan untuk sebagai bahan olok – olok. Saya baru mulai memikirkan kenapa aturan seperti itu diperbolehkan, padahal Allah sendiri menciptakan perempuan dengan kecemburuan yang besar. Ya, tidak mungkin Allah membuat sesuatu yang akan mempersulit umatnya. Tapi, setelah melihat keadaan saat ini dan tanda – tanda akhir zaman, saya mulai sedikit memahami kenapa Allah membuat aturan seperti itu.

Balik lagi ke pertanyaan, apakah mungkin Allah menghalalkan sesuatu yang tidak baik (menurut perempuan). Padahal Allah sendiri yang menciptakan perempuan penuh rasa cemburu, tapi kenapa seolah – olah Allah menciptakan hal tersebut bertentangan dengan kodrat wanita yang Dia ciptakan?.
Mungkin hal ini baru bisa dilihat baiknya puluhan tahun kedepan atau pas bener – bener mepet akhir zaman. Saat nggak ada lagi laki – laki tersisa, saat banyak perempuan yang tersisa dan sangat dikhawatirkan akan banyak penyelewengan/ kerusakan seperti zaman nabi luth.


Saya tetap yakin kok, laki – laki melakukan poligami itu cuma didasari dua hal “Terpaksa” atau “Dipaksa”. Jadi, kalau mereka tidak merasa terpaksa atau dipaksa, saya rasa mereka akan tetap setia pada satu orang (kata laki sendiri loh ya).

Tapi setidaknya, sebelum pertanyaan itu akan hadir dalam kehidupan saya, masih ada puluhan pertanyaan “Kapan Nikah?” yang akan menghantui saya hingga saya menikah dengan seseorang yang mereka tunggu – tunggu *hahaha*

Leave a Reply