Bismillahirrahmanirrahim

Selamat sore rekan – rekan sekalian, bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga selalu dalam lindunganNya dan tuntunanNya ya.

Kali ini, saya akan berbagi sedikit tentang apa yang ada di benak saya. Tentunya berhubungan dengan judul yang saya tulis yakni “Kemanusiaan tidak cukup dengan foto profil”. Tentunya kita semua tau tentang aksi terorisme yang baru – baru ini terjadi di paris yang sempat menghebohkan dunia maya tentang pro dan kontra-nya. Kebetulan sekali, hal tersebut sedang menjadi pembicaraan hangat dan cocok untuk saya jadikan referensi dalam tulisan saya. Sebelumnya mari kita samakan persepsi kita tentang apa itu teroris melalui KBBI :

Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat.

Terus terang, saya pribadi turut berduka dan mengecam siapapun pelaku yang terlibat dalam aksi terorisme tersebut. Saya turut berduka atas apa yang menimpa paris, sama halnya seperti saya berduka atas apa yang terjadi di Palestina, Suriah, Iraq dan negara islam lainnya sekaligus seluruh negara di belahan bumi lainnya yang juga mendapatkan aksi teror dari pihak tertentu.

Pro dan kontra yang kebetulan terjadi atas kejadian di Paris tempo hari menimbulkan banyak gesekan pada masyarakat dunia maya (karena kenyataannya, di kampung – kampung yang masih sedikit sekali akses internet, justru masyarakatnya tenang dan tentram tanpa ada pro dan kontra yang berarti). Ada yang mengatakan bahwa kita tidak perlu berdoá untuk paris dikarenakan mayoritas di paris adalah umat non-muslim dan negara paris adalah negara non muslim. Selain itu, ada yang mempermasalahkan kebijakan FB dalam memberikan dukungannya kepada paris, berupa fitur ubah profile picture menjadi warna bendera perancis (Seperti yang dilakukan FB ketika LGBT menjadi legal di USA).

Tentang Hashtag #PrayForParis

Saya memiliki sikap sendiri terhadap ramainya orang yang menggunakan hashtag #prayforparis sekaligus mengubah foto profil mereka menggunakan bendera perancis. Menurut pandangan saya pribadi, hashtag #prayforparis memiliki makna yang lebih dalam daripada sekedar berduka atas kejadian yang menimpa ibukota perancis tersebut. Lebih dari sekedar hashtag, menurut saya sebagai seorang muslim, banyak hal yang harus kita doákan dari paris.

Pertama, kita (saya pribadi dan mungkin sebagian pembaca) belum tau jumlah korban resmi dari kejadian di paris berapa orang, dan mereka memiliki agama apa saja. Jika salah seorang diantara mereka adalah seorang muslim yang tidak bersalah, apakah kita tidak berhak mendo’akannya? Terlepas dari larangan mendo’akan seorang non-muslim, bukan berarti kita juga dilarang untuk turut merasakan kesedihan atas kejadian yang menimpa mereka bukan? Toh banyak juga para non – muslim yang juga memberikan empatinya untuk negara – negara islam, negara – negara saudara kita yang juga terkena aksi terorisme. Jadi, menurut saya, hashtag dan foto profil tersebut bisa jadi hanyalah bukti empati kita terhadap masyarakat yang menjadi korban, serta menjadi doá untuk saudara muslim kita disana.

Kedua, kita sudah tau bahwa saat ini, opini masyarakat dunia tengah digiring untuk menyetujui bahwa pelaku teror di paris adalah seorang muslim, dengan ditemukannya paspor sakti anti bom (yang lebih powerfull dari sekedar kevlar) yang entah ditemukan oleh siapa. Tentunya, dari hal seperti itu akan muncul masalah yang lebih besar lagi. Ya! Keamanan saudara muslim kita di paris. Kita tentunya sudah tahu bahwa tiap tahun selalu ada tindakan diskriminatif dari ringan hingga berat yang dilakukan oleh sebagian kecil orang, terhadap para muslim dan muslimah di seluruh dunia terutama paris. Bukankah kondisi mereka layak kita doákan? Bahkan menurut saya, mereka tidak hanya butuh do’a, mereka juga butuh dukungan agar tetap kuat hidup di negara yang mayoritas membenci islam.

Realita sekeliling kita

Sudahpun banyak generasi muda yang teracuni oleh budaya barat, mereka juga turut diracuni oleh media yang menjelek – jelekkan islam, ditambah ilmu agama masih banyak yang bahkan kurang cukup untuk mampu menyaring berita dari luar. Termasuk mungkin banyak yang mengatakan bahwa para remaja banyak yang ikut – ikutan padahal tidak tau apa – apa.

Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga.

Tapi, bukan berarti sudah jatuh tertimpa tangga, kita tidak bisa bangun lagi kan?

Sejauh saya melakukan riset kepada beberapa remaja muslim, banyak dari mereka yang terlanjur mencintai paris karena sudah terlebih dahulu terkontaminasi oleh film – film dan informasi yang menjelaskan tentang keindahan paris jauh sebelum mereka mengenal islam lebih dalam. Akibatnya, sudah dapat kita saksikan saat ini. Begitu banyak remaja – remaja yang ikut – ikutan dalam menanggapi sebuah isu global yang kenyataannya isu tersebut adalah sebuah isu yang sedang dimainkan oleh sebagian besar orang di dunia.

Media sudah terlalu jauh memberitakan islam (terlalu jauh menjelek – jelekkan islam) hingga rasanya kita sudah sangat lelah dengan propaganda mereka dan rasanya ingin melawan. Ya! Lelah sekali.

Apa yang kita lakukan untuk palestina, suriah, dan negara islam lainnya?

Terkait dengan hashtag dan fitur di facebook untuk mengubah foto profil, banyak pula yang mempertanyakan hal ini “kenapa cuma paris? di palestina, suriah, mesir dan negara lainnya mengalami hal yang dialami oleh paris setiap hari, tapi tidak ada yang bersuara, tidak ada fitur ubah gambar menjadi bendera negara mereka, tidak ada yang menggunakan hashtag #prayforpalestine #prayforsuriah #prayformesir dll”.

Tentunya kita sendiri tau bahwa pendiri facebook bukanlah orang yang pro terhadap muslim (termasuk hukum – hukum muslim). Terbukti beliau juga menyediakan fitur update profile picture untuk merayakan kebanggaan atas legalnya LGBT di amerika. Lantas, kita hendak meminta ke facebook untuk menyediakan fitur tersebut? Jelas tidak akan pernah diberikan kecuali CEO FB diganti saya atau minimal seorang muslim yang peduli dengan nasib umatnya.

Menurut pendapat saya (lagi), yang diperlukan oleh palestina, suriah, mesir dan negara islam lainnya bukan lagi hanya sekadar hashtag dan profile picture. Lebih dari keduanya, lebih dari doá. Saya sendiri berfikir dan yakin bahwa jika kita mampu membuat hashtag dan mengubah profile picture kita untuk empati pada paris, tentu kita bisa melakukan hal yang jauh lebih besar dan lebih baik untuk saudara – saudara di palestina dan lainnya. Termasuk kita juga dapat melakukannya kepada saudara kita yang berada di perancis.

Kita mampu membantu dengan harta kita, bantu mereka dengan harta kita. Kita mampu dengan tenaga kita, bantu dengan tenaga kita. Kita mampu membantu dengan kecerdasan kita, bantu dengan kecerdasan kita. Kita kerahkan segala yang kita mampu untuk mereka. Kita bantu mereka dengan segenap hati. Tidak perlu memasang bendera mereka, selama kita mampu berbuat lebih untuk mereka, Allah pun tau siapa yang menolong agamanya.

Jika memang ingin adil, mengapa tidak menuliskan hashtag untuk seluruh negeri yang dilanda musibah? Daripada kita mencela seorang yang berusaha berempati, bukankah lebih baik untuk mengajaknya berdo’a dan bermanfaat bagi lebih banyak orang?

Siapapun kita, bagaimanapun keadaan kita, selalu ada celah untuk kita melakukan sebuah kebaikan.

Seperti yang saya katakan pada gambar pembuka diatas :

Humanity is not the thing we have to talk about, but it have ti be fought by us!

Kemanusiaan bukanlah sesuatu yang harus kita bicarakan, tapi harus kita perjuangkan. Kemanusiaan tidak cukup dengan foto profil, tidak cukup dengan hashtag. Kemanusiaan jauh melibatkan perasaan dan identitas diri sebagai manusia sejati.

Salam.

Leave a Reply