Assalamu’alaikum.

Hi readers, rasanya sudah sekian lama saya hiatus dari dunia per-blog-an. Sebenarnya banyak tulisan yang harusnya rilis sejak terakhir saya menulis disini, sayangnya, semua itu hanya jadi draft yang menuh – menuhin blog ini.

Kali ini, saya mencoba untuk menulis kembali setelah sekian lama saya tidak menyentuh komputer saya untuk membuat sebuah narasi yang ringan untuk dibaca oleh readers sekalian. Setelah sebelumnya saya hanya menyentuh komputer untuk menyelesaikan desain dan berkomunikasi dengan client.

So, ceritanya sejak dua hari terakhir, beranda facebook saya dipenuhi oleh berita tentang adanya “hijab/jilbab halal”. Berikut ini adalah gambar yang beredar di timeline saya :

610b9d7b-cf96-4c86-8141-dc57f82e6faf_34

Gambar yang beredar tersebut merupakan sebuah pengumuman dari produsen jilbab yang memiliki nama besar di indonesia.

Banyak pro dan kontra yang disampaikan oleh rekan – rekan saya dan masyarakat luas, seiring tersebarnya informasi ini. Ada yang merasa bahagia atas berita baik tersebut, tapi tidak sedikit pula yang mempertanyakan, bahkan memberikan komentar pedas kepada zoya terkait berita “halal”nya jilbab produksi zoya.

Marketing kekinian

Mungkin apa yang dilakukan zoya merupakan salah satu penerapan teknik viral marketing dan digital marketing yang “kekinian”. Ya, dengan bahasa yang cukup “provokatif” menurut saya. Membuat nama zoya otomatis akan langsung naik menjadi trending topik yang secara tak langsung juga mendatangkan profit tersendiri buat mereka.

In reality, bahasa seperti itu memang sudah sangat biasa sekali digunakan dalam teknik marketing sebuah produk. Bukan barang baru dalam keseharian saya.

Tapi, apakah hal tersebut memang benar – benar perlu?

Jilbab halal?

Ya halal dong! jelas! itu kan perintah dari Allah untuk semua perempuan muslim. Sejujurnya sih, melihat berita dari zoya gitu, bikin saya agak sedikit khawatir sama12670133_1249438148413484_6265717202647709396_n rekan – rekan saya yang saat ini belum berjilbab. Sudah cukup alasan “panas” dan “nggak cantik” atau bahkan “susah cari kerja” jadi dinding antara mereka dan hidayah Allah.

Cukup udah itu aja!

Jangan bantu mereka menambahkan alasan mereka untuk tidak berjilbab.

Belum lagi nanti pendapat musuh – musuh islam yang terang – terangan jadi penghalang orang – orang untuk mendekat pada Allah. Jadi makin ada bahan deh buat memecah belah umat.

Menurut ifa bagaimana?

In my humble opinion, saya sendiri agak merasa “apakah segitu perlunya jilbab pun diberikan label “halal”?”. Memang jika diambil benang merah dari tulisan pada gambar disamping, saya pun merasakan ada kekhawatiran dari zoya tentang pencucian kain yang menggunakan emulsifier yang katanya kain tidak halal menggunakan emulsifier dari gelatin babi.

Saya sendiri merasa agak aneh atau mungkin lebih tepatnya, emangnya nyuci kain di pabrik kain itu pakai emulsifier ya?

Bukannya cuci kain itu dimana – mana pakai sabun?

Karena saya penasaran, akhirnya saya menanyakan hal ini kepada “cinta pertama saya” tentang penggunaan emulsifier pada proses pencucian kain. Mengutip dari percakapan whatsapp kami, beliau jelaskan :

Wkt cuci ga pake emulsifier. Ga da yg pake, kl sabun iya. Emulsi dipake di pasta printing atau obat finishing yg pake sejenis silicone oil. Emulsifier berfungsi agar silicon oil bisa dilarutkan dengan air. Dipasta printing jg begitu. Ingat air sama minyak ga bs homogen, atau terpisah, agar bisa homogen/ nyampur perlu dikasih emulsifier dan diaduk

 

Apakah itu menjawab atau membantah secara mentah tentang pendapat dari zoya, bahwa pencucian kain yang tak halal menggunakan emulsifier dari gelatin babi? Iya. Karena mencuci kain menggunakan sabun (seperti yang dijelaskan diatas). Tapi apakah pasti semua kain menggunakan emulsifier dari babi pada proses tertentu (seperti di pasta printing dan obat finishing? Belum tentu.

Kondisi yang diceritakan oleh cinta pertama saya tersebut, merupakan kondisi di pabrik tekstil berskala besar, yang menurut beliau sendiri, kebutuhan emulsifier pada perusahaan tekstil sangat banyak dan tidak akan tertutup jika hanya menggunakan dari babi.

Pada sisi lain, kita pun tau bahwa emulsifier ada yang berasal dari alam dan buatan menggunakan zat – zat kimia.

Dan lagipula, kalau saya jadi pimpinan pabrik, daripada menggunakan babi belum tentu cukup, mending pakai emulsifier buatan yang kemungkinan cukupnya lebih besar. Daripada campur – campur bahan. Belum tentu kualitasnya sama.

So? You got the point? No?

Jadi, menurut saya, kemungkinan bahwa kain yang biasa kita gunakan untuk hijab mengandung babi, menurut saya sih kemungkinannya kecil. Melihat dari sudut pandang saya yang memang nggak terlalu mengerti proses di tekstil, sekaligus melihat kenyataan bahwa kemungkinan menggunakan babi itu kecil.

Jadi, saya sih tetap menggunakan jilbab saya, yang saya miliki saat ini. Kecuali jika ada yang bisa membuktikan bahwa jilbab – jilbab yang saya kenakan saat ini mengandung babi.

So?

That’s it.

Banyak – banyak bersabar dan jangan terbawa emosi dalam menghadapi apapun.

Stay calm and be happy

See Ya..

Regards

FK

 

*note : saya selalu minta maaf jika dalam tulisan ini terdapat misunderstanding dari readers sekalian.

Leave a Reply